Terima Kasih, Roy

Posted August 7, 2007 by Radon
Categories: blogosphere, Indonesiana

Sebulan yang lalu, kalau ada yang menyebut kata-kata “stanza”, rasanya saya akan mengernyitkan dahi sebentar sebelum mencari di mesin pencari soccernet.com, berpikir bahwa itu adalah nama salah seorang pemain bola dari Eropa Timur. Tapi sekarang, secara ajaib “stanza” bak menjadi artis dadakan. Terakhir saya cek, Google Blog Search untuk entri-entri bahasa Indonesia yang mengandung kata “stanza” dari tanggal 4 Agustus hingga 6 Agustus menghasilkan angka 171.

Jadi jangan salah, Indonesia-Raya-Gate by You-Know-Who ini kalau dilihat dari sudut lain, setidaknya (baca: minimaaaaal) ada kebaikannya. Ehm, ini tentunya membandingkan kebaikan “temuan” You-Know-Who dengan “kerusakan-kerusakan” yang mungkin diakibatkan; makanya saya sebut kebaikan minimaaaaal. Jadi, apa saja kebaikannya?

1. Seperti yang saya sebut tadi: mengenalkan kata “stanza”; dan kita pantas berterima kasih kepada You-Know-Who. Saya pribadi tadinya tidak tahu menahu tentang musik berikut istilah-istilahnya. Now I know.

2. Sudah lama saya nggak menyaksikan blogosphere Indonesia disibukkan dengan diskusi 1 topik yang membuat heboh. Terakhir mungkin tentang NgaduTrafik 2007 yang lumayan “seru”. Tapi kehebohan kali ini terasa beda, karena selain heboh, blogosphere terlihat kompak. Nggak tanggung-tanggung, banyak blogger “senior” yang juga merasa tergelitik untuk ikut menulis tentang Indonesia-Raya-Gate ini seperti Ong Hock Chuan. Belum kalau kita masukkan tulisan-tulisan Priyadi, Adinoto (dengan chart-nya), Ryo Saeba, atau mencuatnya tulisan Jay tahun 2005 “Hari Musik Nasional“.

Jadi, lagi-lagi ini berkat You-Know-Who.

3. Ada yang berkomentar di sebuah milis bahwa You-Know-Who telah mengajarkan publik secara gratis tentang ilmu marketing. Yang penting packaging, Bung! Content mah belakangan.

Bagi profesional, praktisi, akademisi, mahasiswa, businessman, politisi; You-Know-Who ini akan menjadi teladan yang bagus untuk belajar marketing. Bagi dosen Marketing, topik ini akan jadi case study yang menarik di kelas. Thanks to Him, sekarang orang Indonesia jadi paham tentang pentingnya ilmu marketing.

4. Andri Setiawan menulis juga bahwa Indonesia-Raya-Gate ini bukti bahwa masyarakat kita masih terbelakang masalah IT. Masalahnya, orang-orang yang memang pakar IT dan lama berkecimpung dalam dunia IT, maupun menjadi aktivis IT malah nggak pernah mendapat publikasi media, sedangkan Pak KRMT sudah diliput oleh detikcom sebanyak 325 kali! Ini sedikit banyak membuktikan bahwa masyarakat masih rawan tertipu untuk masalah IT. Chart yang ada di tulisan Adinoto mungkin bagus untuk memberikan gambaran ke kita.

Jadi, masih menurut Andri, justru kita yang harus disalahkan karena nggak pernah mengajarkan IT ke masyarakat–atau setidaknya belum maksimal. Dan lagi-lagi ini berkat You-Know-Who sehingga kita sadar kekurangan kita.

5. Ah, saya sudah kehabisan ide. Saya tawarkan nomor 5 ini buat yang punya ide lain🙂

Kesimpulannya: mari kita ucapkan bersama-sama dengan senyum selebar mungkin, “Terima kasih Roy Suryo!”TM

Sekadar Uji Kompas

Posted July 6, 2007 by Radon
Categories: Bahasa

Saat menulis dokumen dalam bahasa Indonesia, pernahkan Anda bingung tentang pemilihan ejaan yang tepat untuk kata-kata tertentu? Misalnya antara sekedar dan sekadar, manakah yang benar?
Kalau mengalami kasus seperti itu, biasanya saya akan melakukan sebuah tes sederhana dengan website KCM (Kompas Cyber Media). Baiklah, biar sederhana saya namakan saja uji Kompas.

Metodenya sederhana; kita tinggal masukkan kata-kata yang ingin kita uji ke dalam mesin pencari di website KCM, lalu kita bandingkan jumlah hasil pencariannya. Lebih jelasnya, untuk contoh sekedar dan sekadar, saya mendapatkan kata sekedar terindeks sebanyak 2680 kali, sedangkan sekadar sebanyak 18000 kali. Sekarang tinggal kita memutuskan apakah akan percaya dengan hasil itu, 2680 vs 18000.

Sebelumnya, kita perlu tahu fakta-fakta yang mendasari uji Kompas ini:

1. Kompas cetak adalah media yang paling terpercaya di Indonesia untuk urusan ketepatan penulisan (ejaan, pengetikan).

2. Walaupun begitu, KCM dan Kompas adalah 2 entitas yang berbeda. Karena masing-masing memiliki tim wartawan yang berbeda. Buktinya, kita masih bisa menemukan kata apotik sebanyak 602 dalam arsip KCM–suatu hal yang agak aneh kalau kita temukan di Kompas cetak.

Sehingga kita perlu melakukan asumsi awal bahwa KCM juga cukup reliable, walaupun memang masih kalah dari Kompas. Akhirnya memang uji Kompas ini paling cocok sebagai referensi kita yang paling praktis.

Jadi, bagaimana dengan sekedar vs sekadar?

Kalau saya akan percaya dengan hasil uji Kompas, dengan anggapan 2680:18000 = 1:7 adalah sebuah perbedaan yang cukup signifikan untuk membuktikan bahwa ejaan yang benar adalah sekadar. Dan rupanya deduksi saya benar, kalau membaca artikel ini.

Tapi saya percaya hasil uji Kompas ini nggak selamanya benar. Bisa jadi ada kalanya Anda akan dihadapkan pada hasil 1:2, atau 4:5, atau angka-angka lain yang cukup sulit untuk dibuat keputusan. Nah, kalau demikian, kita bisa mengacu ke pedoman tata bahasa Indonesia terlengkap yang saya jumpai di dunia maya: Wikipedia Indonesia.

Pedoman ejaan dan penulisan kata

Pedoman EYD

Memang, kurang praktis dibandingkan uji Kompas. Tapi kalau sekadar buat referensi, kita bisa manfaatkan control + F dan mencari hal-hal tertentu yang menarik bagi kita.

Buat PR Anda di rumah:

Manakah penulisan yang benar

1. kerjasama atau kerja sama?

2. begadang atau bergadang?

3. silakan atau silahkan?

4. dakwah atau da’wah?

5. hafal atau hapal?

6. Perancis atau Prancis?

7. Sumatera atau Sumatra?

Impeachment

Posted July 3, 2007 by Radon
Categories: Politik

Jauh sebelum kata “impeachment” menjadi “artis dadakan” di media-media AS akhir-akhir ini, orang Indonesia juga sudah mengalami hal yang sama, tepatnya di tahun 2001 saat Gus Dur “diberhentikan”.

Sekarang isu impeachment ini targetnya adalah Presiden George W. Bush. Nggak sembarangan, karena bukan cuma orang-orang Partai Demokrat aja yang mendukung, tapi juga dari Republik. Alasannya selain masalah legalitas invasi AS ke Irak 2003 lalu adalah tentang kontroversi pemberian izin NSA untuk melakukan surveillance kepada rakyat AS.

Faktanya, kata “impeachment” ini sekarang bukan cuma milik para politikus di kongres saja, tapi sudah jadi kata yang sering terdengar sehari-hari di AS sana.

Misalnya, dalam sebuah pertandingan baseball 30 Juni 2007, tiba-tiba saja ada spanduk bertuliskan “impeach”. Memang, momen ini nggak lama tertangkap kamera karena beberapa saat kemudian langsung dipaksa diturunkan, tapi ada juga orang yang sempat mengabadikannya.

Ini juga contoh cover salah satu majalah di tahun 2006.

Saya nggak heran kalau seandainya saat ini Bush nggak nyenyak tidurnya karena isu impeachment ini. Survey Washington Post-ABC News menunjukkan kalau dukungan rakyat AS kepada Bush mencapai titik nadirnya. Sejak 2005, angka dukungan publik merosot di bawah 50%, dan sampai saat ini belum bisa melebihi angka 50% itu. Dalam sejarah AS, presiden yang pernah mencapai angka di bawah 50% hanyalah Harry S. Truman. Dan kini Bush menemani koleganya itu dalam catatan buku sejarah yang akan dipelajari generasi-generasi mendatang.

Begitulah, sejarah berulang; hanya saja dengan pelaku yang berbeda. Kasus seperti ini bukan barang baru bagi sejarah peradaban dunia, sejak zaman dulu sampai sekarang. Semua orang akan merasakan balasan dari perbuatannya, di dunia dan atau di akhirat nanti.

Wa makaruu wa makarallah wallahu khairul maakiriin. “Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS 3:54)

Tambahan: Silakan baca juga kisah Paul Wolfowitz, mantan dubes AS untuk Indonesia, yang barusan dicopot dari posisinya sebagai presiden World Bank, dan Dick Cheney yang juga disorot publik.

Untuk yang Senang Sejarah

Posted June 28, 2007 by Radon
Categories: Food for Thought, Ringan

Dulu di bangku SMA, saya punya pertanyaan yang belum sempat terjawab: sebagai pelajaran IPS (ilmu sosial), kenapa pelajaran Sejarah masih harus dipelajari di kelas 3 walaupun di kelas IPA (ilmu alam)?

Anda menangkap maksud saya? Saya membandingkannya dengan pelajaran-pelajaran sosial lain seperti Geografi, Ekonomi, Akuntansi. Itu pelajaran-pelajaran yang masih saya dapatkan sampai kelas 2 SMA, dan saya mengucapkan selamat tinggal kepada mereka saat kelas 3*. Tapi kenapa hanya Sejarah yang seperti “dianakemaskan”?

Bukan, saya bukan menunjukkan kebencian saya kepada pelajaran Sejarah. Justru kebalikannya, saya sebenarnya menaruh beberapa persen perhatian saya saat itu untuk pelajaran sosial yang satu ini. Jadi, justru saya senang karena di kelas 3 masih bisa belajar Sejarah saat itu.

Alasannya mungkin sederhana: saya dari dulu percaya kalau memahami sejarah itu sepenting memahami Matematika. Dua bidang ini sama-sama bermanfaat untuk otak kita. Yang satu mengasah cara berpikir kita, yang satu lagi memberi kita banyak wawasan tentang bagaimana cara berpikir orang-orang sebelum kita, dan juga how certain things work.

Tapi dari dulu, dari sejak belajar Sejarah pertama kali (kelas 3 SD?) sampai kelas 3 SMA, saya belum pernah sekalipun menemukan sebuah timeline rapi yang menjajarkan kejadian-kejadian sejarah di tempat-tempat beda di dunia sekaligus. Maksud saya, dari dulu, biasanya kita belajar sejarah sepotong-sepotong. Sejarah Indonesia sendiri, sejarah Perancis sendiri, sejarah Timur Tengah sendiri, sejarah China sendiri, sejarah Amerika Latin sendiri, dan sebagainya. Kalau saya, saat belajar Sriwijaya atau Majapahit, saya suka bertanya-tanya sendiri, “di saat Indonesia seperti itu di era itu, di China lagi zaman seperti apa ya? Di Timur Tengah? Di Eropa?” Saat belajar Mesopotamia dengan budaya-budayanya, saya juga bertanya-tanya, “di Indonesia lagi ngapain ya? Di Eropa? Di Amerika Latin?”

Memang, kalau rajin sedikit, bisa saja saya membuat timeline sendiri dengan menjajarkan tahun-tahun yang ada di buku paket. Sayangnya dulu saya jauh dari rajin🙂

Nah, makanya saya senang sekali menemukan website ini. Di sini ada timeline seperti yang saya bayangkan, komplit! Mulai tahun 1000 sebelum Masehi sampai tahun 2000 Masehi.

Ada juga timeline untuk sejarah orang atau tokoh-tokoh.

Buat yang senang sejarah, selamat bereksplorasi.

*Setidaknya ini kurikulum saya waktu itu, kurikulum 1999. Entah sekarang bagaimana dengan kurikulum KTSP.

Benny, Mice, dan Bondan

Posted June 25, 2007 by Radon
Categories: Indonesiana, Ringan

Lagi-lagi kejadian ini saat saya di Depok pekan lalu. Ibu saya menceritakan tentang satu edisi kartun Benny & Mice Kompas yang katanya lucu banget. Orang pasti ketawa kalau baca kartun ini. Katanya menceritakan si Benny & Mice yang sedang meniru Bondan.

Nah, setelah search di Google, rupanya ada juga orang yang punya. Ini dia.

Oh ya, buat yang sudah lama di luar negeri, biar tahu siapa Bondan dan apa itu “maknyus”, silakan baca dulu tulisan di Suara Merdeka ini.

Kartun Benny & Mice lainnya bisa dibaca di sini.

Logo Halal MUI

Posted June 23, 2007 by Radon
Categories: Indonesiana

Saat saya di Depok pekan lalu, saya dibuat terkejut oleh beberapa produk yang ada di rak-rak pasar swalayan. Ini terkejut yang membuat senang. Mungkin saya agak telat tahunya, tapi senang tetaplah senang. Ah, akhirnya Indonesia punya logo halal juga. Logo ini dikeluarkan oleh LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetika)* MUI.
Logo Halal MUI

Logo-logo ini saya saksikan hadir di kemasan produk-produk makanan ringan seperti Chiki**, Chitato, beberapa produk Arnott’s seperti Stikko, beberapa produk Orang Tua semisal Tango. Daftar lengkapnya bisa dilihat di sini. Senang juga rasanya melihat database produk halal di Indonesia yang lumayan lengkap dengan manajemen yang tampaknya lumayan rapi.

Saya sudah menantikan hal ini sejak lama sebenarnya. Konon katanya manajemen logo halal ini awalnya diperebutkan 3 institusi yang merasa berkepentingan: MUI, Depag, dan Depkes. Makanya nggak heran kita baru bisa melihat logo-logo itu tersebar sekarang. Lha wong China aja punya logo halal, masak kita belum punya? Kalau Malaysia dan Singapore sudah sering kita lihat logonya karena produk-produk mereka banyak yang mampir di rak-rak swalayan kita.

Insya Allah dengan adanya logo seperti ini, Muslim Indonesia akan lebih merasa tenang saat makan atau minum tanpa perlu khawatir akan banyak hal. Hal ini agak ironis karena justru Muslim di Singapore lah yang sudah sejak lama mendapat ketenangan seperti itu.

Produsen atau restoran juga bisa melihat ini dari kacamata bisnis. Terbukti di Australia penjualan McDonald’s meningkat 100% setelah mereka menyediakan beberapa produk yang halal. Sederhana saja, dengan semakin meningkatnya kesadaran beragama masyarakat Indonesia, perilaku konsumen lah yang nanti akan menentukan angka penjualan produk-produk. Contoh: saya yakin selama wafer coklat Take-it (Delfi) belum serius mengurusi perizinan halalnya, penjualannya akan semakin lama kalah dengan substitusinya, Kit Kat (Nestle) yang dengan jelas memamerkan logo halal Malaysia besar-besar di kemasannya. Hoka-Hoka Bento?

* saya penasaran; kenapa bukan LPPOK?

** halal tapi nggak thayyib🙂

Penyeberang Jalan, Pengendara Motor, Playboy, dan Inul

Posted May 28, 2007 by Radon
Categories: Food for Thought

Di Singapore, kalau orang menyeberang jalan di tempat yang bukan seharusnya, orang tersebut akan kena denda. Tapi semua orang sudah tahu bahwa hukum seperti itu memiliki satu syarat tambahan: kalau tertangkap. Dengan kata lain, hukum itu nggak berlaku kalau sang pelanggar nggak ketahuan.

Saya terus terang belum pernah menyaksikan ada orang yang menyeberang jalan sembarangan, lalu tertangkap sama polisi di Singapore, sebelum mendengar cerita dari seorang teman.

Menurut penuturannya, dia pernah melihat orang yang ditangkap ketika menyeberang jalan di area City Hall yang cukup ramai. Tentunya dia menyeberang di tempat yang dilarang, makanya tertangkap.

Nah, kita bisa membayangkan skenario seperti ini:

Polisi : Pak, maaf (sambil menepuk pundak penyeberang jalan sembarangan).

Penyeberang jalan sembarangan (PJS): (celingak-celinguk, lihat kanan kiri) Saya, Pak ?

 

Polisi : Iya, Bapak saya tangkap karena meyeberang jalan di sini (sambil menunjuk rambu lalu lintas). Denda untuk pelanggaran ini sesuai pasal … (belum selesai bicara)

PJS : (langsung memotong) Lho, lho, tunggu dulu dong, Pak. Kok cuma saya aja yang ditangkap? Itu juga orang banyak yang nyebrang selain saya (sambil menunjuk sekeliling).

Polisi : …

 

Skenario seperti ini sangat umum. Rasanya mudah sekali memahami mengapa PJS akan ngotot meminta polisi menangkap PJS-PJS lainnya, nggak cuma dia. Itu reaksi natural orang kebanyakan, saya pikir. Sedangkan polisi sama sekali nggak bisa disalahkan dengan menangkap orang seperti itu. Itu tugas dia, dan lebih-lebih itu sesuai hukum yang berlaku.

Cerita seperti ini mirip dengan kasus pengendara motor yang tertangkap karena nggak pakai helm, lalu berkomentar, “Lho Pak, tadi di depan saya banyak lo yang nggak pakai helm juga. Kok saya aja yang kena?”

Atau ada juga kisah serupa di kasus yang lebih terkenal: kasus Playboy. Ponti Carolus pernah berkilah, “masak majalah pria lain yang berani memajang pose menantang dibolehkan, sedangkan kami tidak?”

Tentunya dia mengacu kepada majalah-majalah lain seperti FHM, Maxim, dan konco-konconya yang sudah ada lebih lama di Indonesia dan tetap aman-aman aja.

Kasus Inul beberapa tahun lalu juga bisa kita masukkan ke daftar ini. Inul juga saat itu berkilah dengan menyebut masih banyak penyanyi dangdut selain dia yang goyangannya lebih “dahsyat” dibanding dia.

Logika sederhananya, polisi maupun pihak berwenang nggak bersalah dengan menangkap mereka semua. Kalau ada satu keburukan yang kira-kira memiliki peluang untuk menyebarkan keburukan yang lebih banyak lagi, maka siapa pun yang masih bermoral pasti akan mendukung sikap polisi atau pihak berwenang tersebut. Hal ini nggak ada kaitannya dengan waktu. Jadi pertanyaan semacam “kok nggak dari dulu-dulu goyangan penyanyi dangdut dipermasalahkan? Kenapa baru sekarang?” nggak perlu diambil pusing.

Kemunculan Playboy bahkan pernah diasosiasikan dengan teori jendela pecah yang menjadi populer secara tiba-tiba. Dalam teori ini, disebutkan kalau kejahatan yang besar tumbuh dan berkembang dari kejahatan yang kecil.

Kasus kereta bawah tanah New York dicatut sebagai salah satu contoh. Semua kasus kriminal yang terjadi di kereta bawah tanah New York disinyalir berasal dari hal yang kecil: kaca kereta yang pecah. Dari kaca pecah yang dibiarkan dan nggak diganti-ganti inilah kemudian orang jadi merasa nyaman untuk buang sampah, mencorat-coret tembok, hingga terjadi kasus-kasus kriminal seperti perampokan dan pembunuhan. Playboy ini adalah kasus pembunuhan dan perampokan setelah sebelumnya pecahan-pecahan kaca seperti majalah Maxim dan tabloid Matra dibiarkan berserakan nggak terurus begitu saja.

Nah, balik ke skenario polisi dan PJS tadi, pertanyaan saya untuk Anda: bagaimana seharusnya polisi itu menjawab pertanyaan PJS?

PJS : Lho, lho, tunggu dulu dong, Pak. Kok cuma saya aja yang ditangkap? Itu juga orang banyak yang nyebrang selain saya (sambil menunjuk sekeliling).

Polisi : … <silakan diisi sendiri>

Menurut kisah-kisah yang pernah saya dengar, ada polisi yang menjawab seperti ini:

“Ya, berarti Bapak kurang beruntung aja.”

“Maaf nih Pak, tangan saya cuma dua.”

Sampai sekarang saya belum pernah mendapat jawaban yang kedengarannya pantas untuk pertanyaan yang ini. Anda punya ide yang bagus?